Suasana pasar ikan Kedonganan, Sabtu, 17 Maret 2024 (Foto-foto Darma Putra)

Akhir pekan adalah saat yang baik untuk cari ikan segar ke pasar ikan Kedonganan, Selatan Airport Ngurah Rai.

Suasana pasar ikan segar Kedonganan, Kecamatan Kuta, Sabtu, 15 Januari 2022, dan juga Minggu, 17 Maret 2024, tampak ramai. Pembeli lalu-lalang. Angin laut bertiup kencang.

Perahu-perahu di perairan pantai tampak berayun, sementara sebagian lainnya berjejer nongkrong di pasir, seolah menanti jadwal turun ke laut mencari ikan.

Tak jauh dari tempat perahu nangkring, bejejeran pedagang ikan segar. Banyak pedagang menggelar dagangan di sana.

Ruang jualan ikan juga terdapat di pasar di dalam yang lebih permanen, tertata, dan lebih bersih. Ke mana pun menoleh di sini, ikan segar menyambut lirikan kita.

Baik di pasar di dalam maupun di luar, pedagang ramai menawarkan ikan dengan menyebut nama ikan disertai harga per kilogram, sementara  pembeli yang tertarik mencoba tawar-menawar.

Terdengar penawaran harga berulang: Kocing (atau kucing) Rp15 ribu. Layang Rp15 ribu. Tongkol Rp25 ribu.

Dipilih dipilih.

Yang lain berujar: ini ikan besar, kesukaan bulè, ukuran bulè. Entah apa maksudnya, tetapi memang ada nada serius dan bercanda. Selain orang lokal, bulè ada yang lalu-lalang membeli ikan juga.

“Boleh tawar Bu?” seorang calon pembeli menimpali.

“Jangan Bu, kami hanya dapat seribu,” ujar pedagang bertahan.

Harga di pasar di mana pun, pastilah dinamis. Tawar-menawar merupakan hal wajar.  Pedagang berusaha menjual tinggi sehingga dapat laba, sementara pembeli berusaha menawar agar dapat harga murah.

Suasana pasar juga menentukan harga jual. Kalau pengunjung sedang ramai dan waktu masih pagi hari, pedagang memasang harga tinggi, kalau sepi, harga terpaksa turun. Kalau sore hari, menjelang tutup harga bisa diobral.

Harga ikan kocing dan tongkol di atas adalah harga Januari 2022. Sebagai gambaran, harga beberapa buoan sebelumnya, yakni Oktober 2021, lebih rendah dari itu.

“Harga ikan kucing yang biasanya Rp8 ribu – Rp10 ribu sekarang Rp15 ribu, tongkol sekarang Rp30 ribu dulunya Rp20 ribu, terus ikan kenyar sekarang Rp40 ribu dulu bisa Rp30 ribu,” ujar Rehan, seperti dikutip koran Tribun-Bali.com, 6 Oktober 2021.

Sejak pandemi agak mereda, waktu dan aktivitas kegiatan di pasar ikan Kedonganan lebih leluasa. Pedagang bisa berjualan dari pk. 06.00 pagi sampai malam.

Dalam masa pandemi, jam operasi lebih pendek, dibatasi, yakni pk. 16.00 sudah harus tutup. Ini tentu untuk mengurangi risiko penyebaran covid.

Suasana jual-beli lebih ramai di tepi pantai daripada di pasar beratap dan terkurung di dalam. Bedanya, pedagang di dalam menyajikan ikan yang lebih bersih dan segar. Jenis ikan seperti kakap, kerapu, salmon, jangki, dan tuna tersedia di dalam.

Seperti layaknya pasar umum, di pasar ikan Kedonganan juga ada pedagang yang menjual sayur, buah, daun, bumbu, dan kebutuhan hidup lainnya. Ada yang jual pisang, salak, sawo, rambutan, jeruk, kedongdong, dan petai. Pusuh pisang juga ditawarkan sebagai bahan sayur.

Di sekitar pasar ikan Kedonganan juga terdapat warung makan yang menyediakan ikan bakar, sup, dan sayur. Pembeli bisa duduk dan makan di sana. Bisa juga mereka membeli ikan sendiri dan  dibakar di sana.

Pagi itu, sampai sekitar pk. 09.30, warung-warung itu belum ramai. Kiranya orang belum lapar utnuk menikmati ikan bakar.

Selain penduduk lokal dan sekitarnya, tampak juga hadir wisatawan asing sebagai pembeli. Dalam musim normal sebelum pandemi, memang banyak bulè datang beli ikan segar untuk diolah di rumah masing-masing.

Penjual bumbu

Kami tinggal di Denpasar, sekitar 16 km dari Kedonganan. Bertandang ke pasar ikan Kedonganan adalah untuk beli ikan segar sekaligus rekreasi pagi. Pilihan ikan banyak, dan tampak lebih segar. Kalau tidak ada cukup waktu, kami beli ikan di Sanur, tepatnya di Jl Bypass Ngurah Rai, sebelah barat jalan, tak jauh dari Pantai Matahari Terbit, Sanur.

Di Kedonganan dan Jimbaran banyak ekspatriat, termasuk juga mahasiswa asing yang kost di sekitar itu, terutama sebelun pandemi. Membeli ikan untuk dimasak di rumah bagi mereka adalah selingan indah dengan rasa penuh selera dan seluruh.

Kalau tidak mau repot, pengunjung bisa beli ikan segar dan mengolahnya di warung sekitar. Pengunjung tinggal duduk, makan, dan bayar jasa masak. Praktis!

Pasar ikan Kedonganan menjadi salah satu sumber penggerak ekonomi Desa Kedonganan. Pengunjung yang membawa mobil ke sana wajib bayar Rp5 ribu untuk masuh ke jalan menuju pasar ikan. Tiket dikeluarkan oleh Desa Adat sebagai sumbangan masuk ke kawasan pariwisata pesisir Kedonganan.

Biaya parkir di pasar lain lagi.

Sementara itu menjadi pendapatan desa, warga masyarakat juga bisa menyambung hidup dengan berjualan di pasar.

Untuk menjaga kesehatan dan penyebaran covid, pasar ikan Kedonganan diawasi petugas dengan ketat. Ketika kami berkunjung ke sana, Sabtu, 15 Januari 2022, terdapat beberapa petugas polisi melakukan patroli dan pengawasan penggunaan masker.

Pedagang yang membuka masker disarankan menggunaan secara sempurna. Kesadaran pedagang sudah baik. Siapa pun ingin pandemi berakhir dan sehingga pasar ikan tetap bisa beroperasi untuk transaksi ikan dan menjadi sumber penggerak ekonomi masyarakat.

Menurut Bendesa Adat Kedonganan Dr. Wayan Merta, pasar ikan ini dan kegiatan nelayan di sana menggerakkan sekitar 30% ekonomi masyarakat Kedonganan selama Pandemi berkecamuk. Pasar ikan sempat tutup ketika puncak-puncak pandemi terjadi.

Setelah pandemi berangsur mereda, pasar ikan dibuka secara terbatas, pedagang ikan mulai berjualan. Ikan menjadi kebutuhan sehari-hari dan jualan mereka laku.

Nike mawinan Kedonganan kari survive, walaupun berat pisan,” ujar Jero Bendesa Adat Wayan Merta. Artinya: “Itu sebabnya Kedonganan bisa bertahan, walau amat berat.”

Pantai Kedonganan yang awalnya terkenal akan tempat pembelian ikan segar, sejak awal 1990-an mulai terkenal akan ikan bakarnya. Banyak kafe berdiri di pantai, meniru apa yang terlebih dahulu populer di daerah Jimbaran, pantai di sebelah Selatan Kedonganan.

Ada 24 cafe di Pantai Kedonganan. Selama pandemi, cafe-cafe tersebut tutup. Ini tidak mengherankan karena sebagian besar pelanggan cafe-cafe ikan Kedonganan adalah wisatawan, baik asing maupun domestik.

Setelah pandemi mereda, usah cafe mulai menggeliat. Sudah 20 cafe mulai buka menerima pelanggan. Jero Bendesa Dr. I Wayan Merta menyambut baik pembukaan itu namun menyadari bahwa operasi mereka masih berat.

Kewanten masih berat, kanggiang untuk mresidayang karyawan wenten pekaryan….. kalau untung durung….,” ujar Jero Bendesa, dalam bahasa Bali. Artinya: ‘masih berat, syukuri dulu yang penting ada pekerjaan buat karyawan…. Kalau untuk peroleh untung, belumlah…’.

Konsumen ikan bakar segar di tepi pantai dewasa ini sedang anjlok karena covid.

Sementara ini, jualan ikan segar untuk penduduk lokal dan penduduk yang tinggal di sekitar merupakan solusi atau jalan ke luar efektif untuk tetap membuat roda perekonomian masyarakat berputar.

Dengan menjadi nelayan atau jualan ikan, mereka ‘bangga melayani bangsa’, sesuai pesan yang tertulis di baju kaos hijau di bawah (Darma Putra).