Tari Rejang (foto-foto Darma Putra)
Tari Rejang (Foto Darma Putra)

Pemprov Bali melaksanakan perayaan, syukuran, dan pementasan atas dinobatkannya seni tari tradisi Bali sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO. Syukuran yang diisi dengan pementasan ke-9 tari itu dilaksanakan di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar, Rabu, 30 Desember 2015.

Kesembilan tari itu adalah Tari Sanghyang Dedari, Tari Rejang Dewa, Tari Baris Upacara, Tari Topeng Sidakarya, Gambuh, Wayang Wong, Tari Legong Keraton, Barong Keet, dan Joged Bumbung. Satu per satu dipentaskan bergiliran.

Pementasan yang memukau hadirin itu berlangsung sekitar dua jam. Yang tampil adalah penari muda berbakat, baik dari sekaa di masyarakat maupun yang menempuh pendidikan seni.

UNESCO menetapkan tarian Bali sebagai warisan budaya dunia dalam rapatnya di Windhoek, Namibia, Afrika, 2 Desember 2015. Dalam rapat tersebut, ditetapkan sejumlah warisan budaya dunia tak benda, termasuk tari Bali. Info penetapan dimuat di link situs UNESCO berikut http://www.unesco.org/culture/ich/en/RL/three-genres-of-traditional-dance-in-bali-00617

Ketika sidang penetapan itu, rencananya tim seniman dari Bali pimpinan Prof. Dr. I Wayan Dibia,M.A. akan hadir untuk mempertunjukkan keindahan tari Bali di depan para pengambil keputusan. Namun, rencana kehadiran itu tidak terwujud karena rombongan dari Bali tidak memperoleh visa transit pada saatnya.

1914482_10207887821494866_7584884192004855985_n
Tari Baris Upacara (Foto Darma Putra)
10366076_10207887821134857_1895433129465025230_n
Tari Sanghyang Dedari (Foto Darma Putra)

Dua Gelar dari UNESCO

Dengan ditetapkan tari Bali sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, bertambah gelar Bali di lembaga budaya PBB itu, setelah tahun Juni 2012 lalu lanksap budaya Bali juga dinobatkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia, dengan label The Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy.

Kabar penetapan tari Bali sebagai warisan budaya dunia tak benda (intangible) memberikan suka-cita di Bali. Betapa tidak, proses pengusulan berlangsung berat dan a lot, yakni sejak 2010. Usulan Bali diajukan lewat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang saat itu dijabat oleh Jero Wacik. Proposal ditulis komprehensif, berisi sejarah tari, filosofi, fungsi, dan kehidupan tari lintas waktu.

“Dukungan dari pemerintah pusat dan daerah membuat keberhasilan menjadi kenyataan,” ujar Porf. Dr. I Made Bandem,M.A., salah satu tokoh di balik pengusulan ke UNESCO. Selain, Prof. Bandem, banyak juga peran Prof. Dr. I Wayan Dibia,M.A., dan Prof. I Gde Pitana yang saat itu menjabat selaku Dirjen yang menangani bidang kebudayaan.

Selain ISI Denpasar, Provinsi Bali lewat Dinas Kebudayaan, lembaga yang berperan dalam pengusulan adalah Balai Kajian Sejarah Nilai-nilai Tradisional (Jarahnitra) Bali, NTB, NTT yang berkantor di Dalung pimpinan Drs. I Made Purna,M.Si.

Prof. Made Bandem memperagakan karakteristik gerak tari Bali (foto Darma Putra)
Prof. Made Bandem memperagakan karakteristik gerak tari Bali (foto Darma Putra)

Masing-masing Tiga Tari

Sembilan tari yang masuk warisan budaya dunia adalah masing-masing tiga jenis dari tiga kategori tari. Tari atau seni pertunjukan Bali dibagi menjadi tiga, yaitu tari wali (sakral/untuk upacara), bebali (semi sakral), dan balih-balihan (hiburan). Kategori ini ditetapkan dalam sebuah seminar tahun 1971, dilaksanakan dalam mengantisipasi pengaruh pariwisata masal dan komersialisasi seni.

Untuk jenis tari wali ada tiga yaitu tari Sanghyang Dedari, Tari Rejang Dewa, Tari Baris Upacara; tiga jenis tari bebali adalah Tari Topeng Sidakarya, Gambuh, dan Wayang Wong; sedangkan tiga kategori balih-balihan hiburan adalah Tari Legong Keraton, Barong Keet, dan Joged Bumbung. Kesembilan tari itu masing-masing mewakili asal dari masing-masing daerah kabupaten kota di Bali.

Jika dipilah berdasarkan sejarahnya, Tari Wali itu berasal dari abad ke-8 sampai abad ke-14, Tari Bebali (asal abad ke-14 sampai ke-19) dan Tari Balih-Balihan (abad ke-19 sampai dengan sekarang).

Tiap-tiap tari dianggap memiliki tokohnya sendiri yaitu I Made Sija (tokoh Tari Sanghyang), Ida Made Djelantik Ardana (Tari Rejang), I Made Ringan (Tari Baris), I Made Djimat (Tari Gambuh), I Nyoman Sumandi (Topeng Sidakarya), I Nyoman Arcana (Wayang Wong), Ni Ketut Arini (Legong Keraton), I Wayan Muliana (Barong Keet), dan I Ketut Suentra (Joged Bumbung).

Kesembilan tokoh tari ini diundang dalam acara syukuran dan diberikan ucapan selamat oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika, lewat pemberian nasi tumpeng.

Penabuh gamelan muda berbakat, pilar keajegan seni tari Bali (Foto Darma Putra)
Penabuh gamelan muda berbakat, pilar keajegan seni tari Bali (Foto Darma Putra)

Kado Indah

Dalam acara syukuran dan pementasan itu, Gubernur Bali Mangku Pastika menyampaikan bahwa penetapan UNESCO itu merupakan ‘kado terindah’ untuk Bali tahun 2015. Gubernur Mangku Pastika mendorong masyarakat untuk terus membina dan mengembangkan tari dan aspek budaya Bali lainnya yang merupakan identitas Bali.

Menurut Pastika, sebi budaya Bali tak hanya merupakan lambing identitas tetapi juga ikon pariwisata, sebagai pendukung pariwisata budaya. Dia beraharap, pada kesempatan lain, kekayaan budaya Bali lainnya bisa diusulkan untuk diakui sebagai warisan budaya dunia. “Tujuannya bukan mencari pengakuan tetapi menunjukkan komitmen untuk melestarikan,” ujarnya.

Pada saat itu, Mangku Pastika juga menyampaikan kenangan personalnya dengan nama kota tempat UNESCO bersidang menetapkan tari Bali sebagai warisna budaya dunia.

“Nama kota Windhoek tempat UNESCO bersidang memiliki kenangan buat saya, karena saya pernah bertugas sebagai polisi PBB di sana selama setahun,” ujar Mangku Pastika.

Dalam acara syukuran itu, Prof. Bandem menjelaskan proses pengusulan dan menguraikan karakteristik gerak tari Bali. Penjelasannnya juga dilengkapi dengan peragaan menari, dengan menunjukkan gerak dasar tari Bali seperti agem, tandang, tangkep.

Info perayaan dan pementasan 9 tari Bali dipasang di Renon (Foto Darma Putra)
Info perayaan dan pementasan 9 tari Bali dipasang di Renon (Foto Darma Putra)

Tak Banyak

Dalam acara syukuran dan pementasan itu, diundang kalangan pejabat termasuk bupati/walikota. Namun, kebanyakan tidak hadir sehingga kursi undangan di bagian depan banyak yang kosong. Yang hadir kebanyakan seniman dan budayawan yang diundang.

Namun, pementasan kesembilan tari Bali itu berjalan penuh pukau karena ditampilkan oleh seniman-seniman yang berbakat. Penonton yang hadir puas menyaksikan keindahan tari Bali.

Dengan masuknya tarian Bali ke dalam warisan budaya dunia, kian kuat wacana untuk memasukkannya ke dalam bahan ajar di sekolah-sekolah sebagai wujud komitmen melestarikan, sesuatu yang sedikit banyak sudah demikian adanya sejak lama (Darma Putra).

Tulisan ini dimuat di harian Pos Bali, Senin, 4 Januari 2016.

Pos Bali, Senin, 4 Januari 2016, hlm. 16.
Pos Bali, Senin, 4 Januari 2016, hlm. 16.

 Versi lain, dimuat di Bali Post, Minggu, 3 Januari 2016.

Versi lain, dimuat di Bali Post, Minggu, 3 Januari 2016.