Dari sekian banyak adegan dalam film “Eat Pray Love”, bagian yang menampilkan Ketut Liyer yang paling mengundang tawa serentak penonton Belanda. Yang membuat mereka ketawa mungkin antara lain karena melihat penampilan Ketut Liyer yang lugu, ompong, dan ucapan-ucapannya yang bernada canda seperti ‘see you later alligator’ (sampai jumpa nanti, buaya!).

Ketika Liyer diejek ompong ‘Ketut has no teeth’ (Ketut tak punya gigi), paranormal ini secara tidak langsung menyindir: ‘Think with your liver’ (Berfikirlah dengan hatimu) sambil menunjukkan gambar rerajahan manusia tanpa kepala. Sindiran filosofis ini seolah-olah dimaksudkan menyerang balik : untuk apa punya gigi, kepala pun tak perlu dalam menghadapi masalah pelik kehidupan, yang lebih penting adalah hati, perasaan. Sepotong pesan yang dalam yang menjadi sumbu amanat film ini.

 Dalam arti sesungguhnya pun, Ketut Liyer benar karena dia tidak perlu gigi untuk makan (eat) spagheti. Tahapan hidupnya dan ajarannya sebagai paranormal hanya memerlukan hati (liver/heart) untuk ‘pray’ dan ‘love’.

 Tak hanya keluguannya, nama Ketut pun memikat penonton, mungkin karena estetis ketika diucapkan. Buktinya, setiap paranormal ini muncul di layar, beberapa penonton refleks berucap ‘Ketut..Ketut…Ketut’. Tidak ada tokoh dalam film tragik-romantik ini yang mendapat respon sepopuler Ketut Liyer. Memang dalam cerita, khususnya bagian ketika Julia Roberts melawat di Bali, tokoh Ketut Liyer-lah yang menjadi fokus.

Dalam novel Eat Pray Love yang menjadi babon film ini, posisi Wayan Nuriyasih (dimainkan oleh Christine Hakim) juga sentral. Namun, beberapa bagian penting pekerjaan Wayan seperti menyembuhkan wanita mandul dengan ‘pejantan’ dan konfliknya dengan Julia Roberts karena tidak kunjung menggunakan uang yang diserahkan kepadanya untuk membeli tanah buat bangun rumah, tidak dilukiskan dalam film. Mungkin untuk tidak menyinggung perasaan masyarakat Bali atau penyederhanaan alur cerita.

 

Bioskop Lido di jantung kota Leiden, 20 Oktober 2010

Minggu Kedua

Pemutaran film “Eat Pray Love” di bioskop Lido di pusat kota Leiden sudah memasuki minggu kedua. Film diputar tiap malam, dua kali main masing-masing pk. 18.30 dan pk. 21.30. Jumlah penonton Rabu malam (20/10) untuk jam tayang pk. 18.30 mencapai 160 orang. Selama pemutaran dua minggu ini, jumlah penonton rata-rata 75 orang.

Minggu ke-3, ternyata masih ramai. Seorang teman mengatakan bahwa saat dia menonton, gedung penuh, kursi terisi semua.

Pemutaran film di Leiden disela dengan waktu istirahat sekitar 10 menit, memberikan kesempatan kepada penonton untuk minum atau membeli pop corn. Saat minum itu, mereka bisa membahas selintas tentang bagian film yang barusan ditonton.

Saat istirahat itulah saya sempat bercakap-cakap dengan petugas bioskop. Ketika saya tanyakan bagaimana animo warga Leiden menonton film ini, dia mengatakan bahwa respon publik Leiden ‘lumayan’. Malam itu, penontonnya cukup banyak, 160 orang dari total 200 kursi yang tersedia di gedung utama.

Petugas bioskop itu tidak tahu, berapa lama film Julia Roberts ini akan bertahan diputar. Sepanjang penonton terus berdatangan, selama itu katanya film diputar terus. Kalau penonton berkurang, saat itu juga akan dihentikan. Untuk ukuran Leiden, sebuah film yang bertahan tiga minggu, itu termasuk ‘pendek’.

Tapi, kata petugas bioskop laki-laki itu lagi, untuk sebuah film romantik tiga minggu putar sudah cukup baik. Di negara atau daerah film ini disyut, seperti Italia, India, dan Bali, mungkin ada alasan kuat hari tayang film bisa lebih panjang.

Kebanyakan Penoton Wanita

Dari 160 penonton malam itu, sebagian besar adalah penonton wanita. Penonton laki-laki bisa dihitung dengan jari. Saya perhatikan penonton satu per satu ketika mereka memasuki ruangan. Ketika istirahat, saya amati lagi, memang jumlah penonton laki-laki sedikit sekali, tak lebih dari sepuluh.

Penonton wanita yang menonton malam itu sebagian besar remaja, umurnya sekitar 20-30 tahun. Mereka inilah yang, entah kenapa, tertarik dengan nama ‘Ketut…Ketut’.

Saya bertanya lagi kepada petugas bioskop, apakah di Leiden wanita lebih senang meonton film daripada laki-laki? Saya bayangkan seperti di kota-kota besar di Eropa, laki-laki biasanya senang menonton sepak bola, pergi ke bar, menonton pertandingan di layar TV sambil minum bir. Kalau toh ada wanita di bar, mereka menghabiskan waktu dengan main bilyard.

Mengapa kebanyakan wanita menonton “Eat Pray Love”, jawabannya ternyata karena film ini adalah film romantik. Julia Roberts adalah idola wanita. Kalau film petualangan atau action, penonton laki akan dominan.

Mencari Keseimbangan

Film “Eat Pray Love” melukiskan kisah hidup seorang wanita Amerika yang frustrasi berat dalam kehidupan perkawinannya sehingga memutuskan bercerai dan meninggalkan negerinya untuk mencari keseimbangan baru (new balance). Dia pergi ke Itali, India, dan Bali, masing-masing selama empat bulan.

Di Italia dia menikmati pasta dan spageti untuk mengembalikan selera makannya yang sempat hilang ketika rumah tangganya kacau. Di India dia melakukan yoga untuk mencari kedamaian. Di Bali, di luar dugaannya, dia tertumbuk pada ‘love affair’. Bali sangat dicitrakan sebagai pulau cinta.

“Eat Pray Love” merupakan kisah nyata dari kehidupan pengarangnya, Elizabeth Gilbert. Dalam petualangannya mencari keseimbangan baru dengan meninggalkan perkawinannya, dia justru berhadapan dengan orang-orang yang bahagia dengan perkawinan. Atau, orang yang hatinya remuk karena perkawinan hancur dan ingin kembali tapi sudha terlambat.

Hati Elizabeth tersindir, sesekali dia terkenang saat-saat bahagian dengan mantan suaminya di Amerika, tetapi Elizabeth sudah berjanji untuk tidak membuka pintu hatinya lagi buat laki-laki, untuk sebuah perkawinan. 

Di Bali, pintu pertahanannya jebol. Dia kasmaran dengan Fellipo, duda Brasil-Australia yang dikenalnya di Ubud. Wayan Nuriasih pun menyindirnya bahwa tak baik buat wanita yang lama tidak main seks. Ketut Liyer pun di akhir cerita mendesak-desak agar Elizabeth mau berumah tangga dengan Fellipo. Bagi Ketut dan Wayan, kebahagiaan ada dalam rumah tangga.

Apakah saran Ketut yang sakti ataukah karena memang tidak ada kebahagiaan hidup di luar pernikahan, yang jelas Elizabeth yang semula menolak rayuan Fellipo untuk berlibur ke suatu pulau bahagia, akhirnya berbalik hati. Sepulang dari rumah Ketut, Elizabeth berlari ke rumah Fellipo, mengajak Fellipo menyeberangi samudera: Let’s cross over. Keduanya bahagia mengarungi bahtera baru. Film selesai sampai di sana.

Pentingnya Keluarga

Awal film ini berkisah rumah tangga sebagai awal petaka, tapi di akhir menunjukkan bahwa keluarga atau rumah tangga adalah sumber bahagia.

Kisah hidup Elizabeth dalam film ini tampaknya mewakili fenomena kehidupan masyarakat Barat di mana ketidakcocokan suami-istri dengan mudah berujung pada perceraian. Hal seperti ini juga mulai muncul sebagai gejala di Timur, hanya saja solusi yang ditempuh mungkin beda. Elizabeth bertualang ke berbagai negara untuk mencari kesimbangan baru, dan jelas itu memerluakn keberanian, dan dana yang besar, sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan orang Timur jika menghadapi masalah yang sama.

Tertawa spontan dan reflek penonton menyebut-nyebut nama ‘Ketut..Ketut..’ yang ditunjukkan penonton wanita Leiden, tentu tidak bisa dianggap mewakili reaksi wanita Barat pada umumnya setelah menonton kisah tragik-romantik ini. Yang perlu diketahui lebih dalam, apakah mereka setuju atau akan menjalani hal yang sama jika frustrasi hidup seperti Elizabeth Gilbert kelak menimpa mereka. Entahlah, yang jelas kalau mereka tidak mempunyai solusi lain, novel dan film ini sudah menawarkan model solusi.

Lalu, bagaimanakah reaksi wanita Timur khususnya Indonesia yang menonton film ini? Kalau boleh menebak, mungkin banyak di antara mereka yang merasa bahwa masalah seperti Elizabeth Gilbert itu adalah penyakit yang hanya akan menimpa orang Barat, tidak mungkin terjadi bagi mereka, sekalipun mungkin persoalan yang mereka hadapi bisa jadi lebih parah dari itu.

Seperti nasehat Ketut Liyer ‘Think with your liver’, tampaknya wanita Timur, dan juga laki-lakinya, lebih menghadapi masalah rumah tangga mereka dengan  hati, perasaan, daripada dengan kepala atau otak.

Darma Putra.

Updated version, versi aslinya dimuat di Bali Post Minggu, 31 Oktober 2010.