Alhamdulillah Hadiah Sastera “Rancagé” untuk sastera dalam bahasa Sunda tahun ini atas rido Allah SWT dan dengan bantuan dari berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap usaha mengembangkan bahasa ibu insya Allah akan diberikan untuk ke-24 kalinya. Artinya sudah 24 tahun Hadiah Sastera “Rancagé” diberikan setiap tahun tanpa sekali pun lowong. Di samping Hadiah Sastera “Rancagé” untuk sastera Sunda, sejak 1994 diberikan hadiah “Rancagé” untuk sastera Jawa, sejak 1997 juga untuk sastera Bali dan sejak tahun 2008 diberikan juga buat sastera dalam bahasa Lampung. Kecuali untuk bahasa Lampung yang kadang-kadang tidak diberikan karena tidak ada buku yang terbit pada tahun yang bersangkutan, Hadiah Sastera “Rancagé“ buat bahasa Sunda, bahasa Jawa dan bahasa Bali selama ini secara tetap diberikan setiap tahun.

Tahun ini, Hadiah untuk bahasa Lampung tidak diberikan, walaupun ada dua buku yang terbit dalam bahasa Lampung ialah Radin Intan II karangan Rudi Suhaimi Kalianda dan Warahan Radin Jambat suntingan Iwan Nurdaya Djafar, karena Saudara Irfan Anshory yang menyeponsori Hadiah untuk bahasa Lampung dan yang selama ini bertindak sebagai jurinya, mendadak meninggalkan kita pada tahun yang lalu, dan kami tidak sempat mencari juri yang lain. (Kebetulan kedua buku yang terbit tahun 2011 itu bukan karya sastera baru, sehingga tidak dinilai untuk mendapat Hadiah Rancagé”).

 

Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 untuk bahasa Sunda

 

Dalam tahun 2011 ada 19 judul buku bahasa Sunda yang terbit, tidak dihitung beberapa judul buku-buku yang merupakan cétak ulang. Dari yang 19 itu, tiga judul di antaranya karya Ajip Rosidi (Sawér jeung Pupujian, Guguritan, dan Wawacan) yang sejak awal tidak pernah dinilai untuk mendapatkan Hadiah Sastera “Rancagé”. Begitu juga dua judul karya bersama (Kumpulan Carita Pondok Rumaja karya Zahra dkk dan Carem kumpulan sajak A. Yogaswara dan Ki Lodaya) tidak dinilai. Demikian pula biografi (Béntang Tembang: Fragmén Kahirupan Nénéng Dinar karya H.D. Bastaman) tidak dinilai. Dari yang 13 judul, lima judul berupa bacaan anak-anak yang dinilai untuk mendapatkan Hadiah Samsudi. Maka yang dinilai untuk mendapatkan Hadiah Sastera “Rancagé” ada 8 judul terdiri dari satu kumpulan sajak (Paguneman karya Acép Zamzam Noor), tiga kumpulan cerita péndék (Duriat karya Saini K.M., Haté Awéwé karya Risnawati, dan Samping Kebat Haturan Ema karya Dudi Santosa), satu drama (Mun-Tangan Alif karya R. Hidayat Suryalaga), satu kumpulan ésai (Ngamumulé Basa Sunda karya Wahyu Wibisana) dan dua kumpulan pantun (=sisindiran, yaitu Sisindiran: Rorotékan H. Adang S. dan Sisindiran jeung Wawangsalan Anyar karya Dédy Windyagiri).

Mun-Tangan Alif merupakan drama terakhir yang ditulis oléh R. Hidayat Suryalaga. Isinya melukiskan tingkat-tingkat yang harus ditempuh oléh manusia agar sampai pada asal-muasal yang sejati. Drama ini dapat disebut sebagai kongkritisasi paham Martabat 7. Yang menjadi tokoh dalam drama ini Ambu dan Bapuh, yang mempunyai tugas untuk membantu Utun, Inji, Enok dan Otong agar meningkat dari tingkat pertama ke tingkat ketujuh sambil berpegang pada tali yang terikat pada Alif yang berada di tingkat ketujuh. Tapi usahanya itu tidak mudah karena di samping Ambu dan Bapuh ada juga Samegost dan Samegeist yang selalu menghalangi dan menggoda siapa saja yang hendak naik tingkat. Dalam drama ini, Hidayat mampu menundukkan gagasan yang terbilang berat dalam peristiwa drama, walaupun pada beberapa bagian masih terasa belum berhasil.

Kumpulan Carita Pondok Rumaja karena dikarang bersama tidak termasuk yang dinilai untuk mendapatkan Hadiah “Rancagé”. Haté Awéwé (Hati Wanita) memuat 20 cerita péndék karya Risnawati yang umumnya melukiskan kehidupan perempuan, baik dalam lingkungan rumah tangga maupun dalam masyarakat, termasuk dalam lingkungan pekerjaan. Unggul dalam penggunaan bahasa Sunda namun sayang dalam susunan ceritanya banyak yang lemah dalam arguméntasi. Duriat (Cinta) karya Saini K.M. sangat unik, karena kecuali sebagai kumpulan cerita péndek, dapat juga dianggap roman yang setiap bagian sama-sama bertémakan “duriat” (cinta). Duriat yang menjadi judulnya mémang mengikat cerita-cerita yang dimuat di dalamnya sebagai suatu kesatuan. Sayang sebagai suatu kesatuan terasa bertélé-télé. Samping Kebat Haturan Ema (Kain Panjang buat Ibu) karya Dudi Santosa memuat 15 cerita péndék yang umumnya menceritakan masalah di lingkungan keluarga dan tempat pekerjaan seperti hubungan suami-isteri, orang tua dan anak, mertua dengan menantu, atasan dan bawahan, atau di antara teman sepekerjaan. Semuanya diceritakan dengan seadanya, yang menonjol hanya “Samping Kebat Haturan Ema” yang dijadikan judul buku.

Ngamumulé Basa Sunda (Memelihara Basa Sunda) memuat 61 ésai Wahyu Wibisana mengenai bahasa (Sunda) baku, lentong, morfém, diksi, konfiks, kalimat dan pengaruh bahasa Indonésia terhadap bahasa Sunda, dan lain-lain. Semuanya memperlihatkan keluasan pandangan dan pengetahuan penulisnya dan ketelitiannya dalam memilih subyék yang dibahas.

 

Baik Sisindiran: Rorotékan H. Adang S. maupun Sisindiran jeung Wawangsalan Anyar karya Dédy Windyagiri, keduanya merupakan kumpulan sisindiran dan juga wawangsalan. Sisindiran adalah semacam pantun yang sangat digemari dalam masyarakat Sunda lama. Pada tahun 1970-an Adang S. yang diangkat oléh Proyék Sundanologi untuk menangani “Caraka Sundanologi” yang merupakan lembaga bimbingan kepada para pemuda yang mau belajar mengarang dalam bahasa Sunda. Dalam kesempatan itu ia berhasil mempopulérkan lagi sisindiran, sehingga sempat menjadi acara tetap dalam TVRI Bandung. Dalam bukunya, dia memberikan uraian mengenai sisindiran, wawangsalan, dan lain-lain, selain memuat sisindiran ciptaannya sendiri. Sedang dalam buku Dédy Windyagiri hanya dimuat sisindiran dan wawangsalan baru ciptaannya.

Carem merupakan kumpulan sajak bersama, A. Yogaswara dan Ki Lodaya (ps. Otong Sumarli), jadi tidak dinilai untuk mendapatkan Hadiah “Rancagé”. Paguneman (Percakapan) kumpulan sajak Acép Zamzam Noor yang kedua dalam bahasa Sunda. Seperti diketahui, Acép banyak juga menulis sajak dalam bahasa Indonésia dan telah menerbitkan beberapa kumpulan sajak. Kumpulan sajak Acép yang pertama dalam bahasa Sunda berjudul Dayeuh Matapoé (1993) masuk nominasi untuk mendapatkan Hadiah Sastera “Rancagé” 1994. Seperti dalam kumpulan sajaknya yang pertama, dalam Paguneman juga Acép banyak melukiskan bercampurnya perasaan dan pikiran dalam perjalanan baik dalam jagat besar, maupun dalam jagat kecil. Tapi kalau dalam kumpulan yang pertama yang dilukiskan itu terutama tempat-tempat yang jauh termasuk yang di mancanagara, maka dalam kumpulan yang kedua yang dia kunjungi adalah tempat-tempat di tanah tumpah darahnya. Dalam kumpulan yang pertama, “jarak” menjadi sumber makna yang penting, sedangkan dalam kumpulan sajak yang kedua sumber makna itu terdapat pada “deukeut” (dekat), “deuheus” (akrab) dan “dalit” (karib). Hal itu menyebabkan sajak-sajak Acép terasa lebih sublim daripada sajak-sajaknya yang lebih dahulu. Tidak ada yang baru pada cara Acép melukiskan rasa, gagasan, dan suasana, tapi hampir dalam setiap sajak nampak keterampilan, pengetahuan dan keluasan pandang Acép sebagai penyair yang menonjol.

Karena itu yang terpilih sebagai karya yang pantas mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 untuk bahasa Sunda adalah

 

Paguneman

Kumpulan sajak Acép Zamzam Noor

Terbitan Nuansa Cendekia (Bandung)

 

Maka kepada Acép Zamzam Noor akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 buat karya berupa piagam dan uang (Rp 5 juta ).

 

Sedangkan yang terpilih untuk memperoléh Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 buat jasa dalam bahasa Sunda ialah

 

Etti R. S.

(lahir di Ciamis, 31 Agustus 1958)

 

Etti pernah mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” untuk kumpulan sajak Maung Bayangan (1995) dan untuk Serat Panineungan (2009). Di samping menulis sajak, Etti juga menulis guguritan yang sering dijadikan tembang dalam Tembang Sunda Cianjuran. Dia sendiri sering menembang. Kegiatannya dalam bidang sastera Sunda kian meningkat setelah dia terpilih menjadi pengurus kemudian menjadi Ketua PP-SS (Paguyuban Pangarang Sastra Sunda yang kemudian menjadi Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda) sampai tiga kali masa bakti. Banyak préstasinya yang patut dicatat ketika menjadi Ketua PP-SS, antara lain menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti sayémbara menulis drama, sayémbara menulis sajak, memperkenalkan sastra Sunda kepada para siswa sekolah menengah melalui kegiatan “saba sastra” dan menyelenggarakan ulang tahun pengarang-pengarang terkemuka. PP-SS di bawah kepemimpinan Etti juga banyak mengusahakan penerbitan buku-buku karya sastra para pengarang muda dengan mengadakan kerja sama dengan penerbit-penerbit profésional.

Kepada Etti RS juga akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 untuk jasa berupa piagam dan uang (Rp 5 juta ).

 

 

Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 untuk bahasa Jawa

 

Dalam tahun 2011 terbit 14 judul buku dalam bahasa Jawa, tapi ada 4 judul yang tidak dinilai karena merupakan cétak ulang (Gumuk Sandhi karya Poerwadhie Atmodihardjo), kumpulan karya bersama termasuk terjemahan (Sajak-sajak Tegalan karya Lanang Setiawan) bukan terbitan 2011, (Cumloroting Cahya ing Telenging Wengi karya Budi Nugroho), dan Wedhus Gémbél Gunung Merapi karya Suci Hadi Suwita).

Maka buku karya sastera terbitan 2011 yang dinilai untuk mendapatkan Hadiah Sastera ”Rancagé” bahasa Jawa 2012 ada 10 judul, yaitu 6 kumpulan sajak (Raja Gurit karya Yudi Joyokusumo, Layang Saka Kekasih karya R. Djoko Prakosa, Ombak Wengi: Antologi 99 Puisi Jawa karya Yusuf Susilo Hartono, Mutung Suwung, Aja Mutung Mundhak Suwung karya R. Ng. Suisdiyati Sarmo, Kidung saka Bandungan karya Rini Tri Puspohardini, dan Bocah Cilik Diuber Srengéngé karya Widodo Basuki), 3 buah roman (Ing Manila Tresnaku Kelara-lara karya Fitri Gunawan, Dilabuhi Jajah Désa Milangkori karya Rahmat Ali, dan Sisip ing Dalan Sidhatan karya Harwimuka) dan sebuah kumpulan cerita péndek (Puber Kedua karya Ary Nurdiana).

Raja Gurit karya Yudi Jayakusmah memuat 61 guritan yang melukiskan tentang alam, tentang kefanaan, pembélaan terhadap bahasa Jawa, penghargaan kepada tokoh-tokoh sejarah dan tokoh wayang, yang semuanya diungkapkan dengan gaya yang lugu, pilihan kata yang lugas, hampir tidak memanfaatkan gaya bahasa apa pun untuk menciptakan keindahan.Sementara itu R. Djoko Prakosa dalam kumpulan guritannya Layang Saka Kekasih yang memuat 111 sajak cinta mengéksprésikan semuanya dengan nuansa melankolik yang melukiskan berbagai situasi cinta yang diungkapkan dengan imaji bernuansa Jawa seperti dalam sajak “Geter”.

Sedangkan Mutung Suwung Aja Mutung Mundhak Suwung kumpulan guritan karya R. Ngt. Suisdiyati Sarmo, seorang ibu berusia 70 tahun selama lk 10 tahun (2002–2011) menggarap berbagai masalah seperti bencana dan kerusuhan yang menimpa, pujian kepada para pejuang, cinta kepada keluarga, kawan dan bangsa, tapi semuanya diéksprésikan secara lugas dan secara keseluruhan cenderung didaktis.

Kidung Saka Bandungan karya Rini Tri Puspohardini berisi 48 guritan bahasa Jawa yang disertai dengan terjemahannya dalam bahasa nasional, menyampaikan masalah-masalah kemanusiaan dengan éksprési yang lembut. Bila ia marah atau merasa kecéwa, hal itu diungkapkan dengan santun. Di dalamnya sering dijumpai ungkapan, métafora dan perbandingan yang baru sehingga terasa segar.

Téma dan masalah yang terdapat dalam kumpulan puisi Yusuf Susilo Hartono berjudul Ombak Wengi yang memuat 99 guritan pilihan 1981–2011, amat bervariasi karena “aku lirik” kaya dengan pengalaman hidup. Seperti nampak dalam sajaknya yang dijadikan judul buku, perkataan “ombak” memiliki makna multi diménsi, dibayangkan sebagai semangat, tenaga yang poténsial bagi manusia dan kehidupan yang semakin lama semakin kuat, dapat dikiaskan dengan anak panah yang mampu menjebol mendung hitam yang mengotori langit hati. Namun ombak juga bisa menjadi kuping yang dengan bijak mendengarkan penderitaan rakyat kecil atau menjadi mulut yang akan mengucapkan kejujuran. Secara keseluruhan puisi-puisi dalam kumpulan ini menekankan pada tiga aspék, yaitu (1) kerinduan kembali kepada kehidupan kampung halaman yang pernah terlupakan, (2) téma dan masalah yang bervariasi diangkat dari renungan jiwa yang matang, dan (3) figur ibu dibayangkan sebagai lambang keiklasan, kehangatan, dan kedamaian.

Bocah Cilik Diuber Srengéngé karya Widodo Basuki, memuat 67 guritan. Judulnya diambil dari judul salah sebuah guritan yang bergaya irasional, menggabungkan dunia mimpi dengan dunia nyata. Bagi anak kecil maka mungkin dia lari ketakutan jatuh bangun dikejar matahari, tapi kemudian berhasil menelannya dan matahari itu jatuh di tempat tidurnya. Ketika bangun keésokan harinya, matahari itu tidak ada tapi pagi itu ia melihat matahari terang bersinar kekuningan di ufuk timur, diiringi suara burung bernyanyi. Terlepas dari puisi-puisi irasionalnya, puisi-puisi péndék réligiusnya memiliki daya saran yang dalam seperti “Rejeki”, “Saradan”, “Klasa Gumelar Sajembaré Langit”, dan “Wiji kang tinandur”.

Kumpulan cerita péndék Puber Kedua karya Ary Nurdiana memuat 25 cerita. Sebagian besar menggarap téma cinta remaja. Cerita yang dijadikan judul buku bercerita tentang Hamid yang sudah beristeri jatuh cinta kepada anak buahnya, Rini.

Dilabuhi Jajah Désa Milangkori karya Rahmat Ali ditulis dalam bahasa Jawa dialék Malang. Sayang menggunakan éjaan semau sendiri, sehingga sulit dibaca masyarakat luas. Kisahnya bersifat otobiografis yang menggunakan gaya aku-serta, mengisahkan sejarah hidup sejak dari asal-usul ayah-ibunya, kemudian tentang orang-orang di sekitarnya (Bu Anna, Kang Dasimin, Yu Tum, Ipah, Ayuk dan saudara-saudaranya yang lain). Tokoh aku lulus SMA tapi tak ada dana untuk melanjutkan, tapi ada kawannya yang menawarkan kerja di proyék bangunan. Kemudian dia berhasil masuk Angkatan Laut dan mengikuti pendidikan di Rusia. Dilanjutkan dengan suka-duka pengalaman hidup si aku yang mengasyikkan. Diakhiri sebagai keluarga bahagia yang meninggalkan pekerjaan formal yang dianggap mengikat, memilih hidup mandiri dengan membuka warung Tegal.

Roman berjudul Ing Manila Tresnaku Kelara-lara karya Fitri Gunawan (Kushartati) ditulis dengan bahasa anak muda yang ringan, menceritakan pengalaman si aku (Dini) ketika mengikuti program S-2 di Manila. Si aku dengan tiga orang kawannya dari Indonésia bertemu secara menyebalkan di toko buku dengan Irawan, mahasiswa program S-3 dari Malaysia. Hubungan Dini dengan Irawan makin dekat, padahal di Bali ada Hari, kawan dekat Dini yang menantinya pulang. Hubungan Dini dan Irawan itu berakhir dengan pernikahan keduanya di Indonésia. Cerita yang ujungnya mudah ditebak itu, sayang sekali kurang cermat dalam alih kode percakapan antar tokoh, sehingga Eni orang Jakarta dan Déwi dari Palémbang menggunakan bahasa Jawa, padahal percakapan antara Irawan, Dini dan dua kawannya yang lain menggunakan bahasa Inggris.

 Sisip ing Dalan Sidhatan roman karya Harwimuka dimulai dengan ironi: Biasanya TKW yang baru pulang mendapati rumahnya menjadi bagus dan kehidupan keluarga yang membaik. Tapi Santi yang baru pulang dari Hongkong, mendapati rumahnya tetap butut dan anak serta suaminya tak ada di rumah. Yang ada hanya ibunya yang terbaring sakit, tidak ada yang mengurus. Oléh tetangga-tetangganya Santi dianggap sebagai TKW yang gagal setelah tiga tahun bekerja di luar negeri.

Ketika Santi menemui Hartati, kakak suaminya, ke Malang dikawani oléh kakaknya sendiri, Ratmi, ternyata Hartati mengira Santi sudah menikah dengan laki-laki lain, berdasarkan surat Santi kepada Redias, suaminya, yang menyebabkan Rédias kawin lagi. Santi yang tidak pernah menulis surat demikian tentu saja menolak tuduhan itu. Dan dengan bantuan Ratmi, Santi dapat membuktikan bahwa ada orang yang memalsukan suratnya.

Setelah dipertimbangkan dengan saksama, karena ada beberapa buku bahasa Jawa yang sebenarnya patut mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2012, namun akhirnya diputuskan bahwa yang mendapat Hadiah Sastera “ Rancagé” 2012 untuk karya dalam bahasa Jawa ialah

 

Ombak Wengi

Karya Yusuf Susilo Hartono

(terbitan Elmatera Jakarta)

 

Kepada Yusuf Susilo Hartono akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé’ 2012 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Adapun yang mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 untuk jasa dalam pengembangan bahasa dan sastera Jawa ialah

 

Sucipto Hadi Purnomo

(lahir di Trikoyo, Jaken, Pati, 6 Agustus 1972)

 

Di samping menjadi dosén di jurusan Bahasa dan Sastera Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Sucipto juga menjadi redaktur Tabloid Yunior Suara Merdéka dan membina rubrik budaya “Sang Pamomong” yaitu lembar khusus bahasa Jawa. Ia juga memimpin Lembaga Kajian dan Pengembangan Pendidikan (LKP2) di Semarang dan menjadi sékertaris Forum Bahasa Média Massa Jawa Tengah dan sejak 2006 memimpin Organisasi Pengarang Sastra Jawa.

Dia juga aktif menulis, baik dalam bahasa Jawa maupun dalam bahasa Indonésia. Kecuali menulis karangan tentang kebudayaan, tentang pendidikan, dan feature, dia juga menuilis guritan dan lakon ketoprak. Karangannya tersebar dalam surat kabar dan majalah seperti Suara Merdéka, Kompas, Panjebar Semangat, Damar Jati, Jayabaya, dan lain-lain. Cerita bersambungnya dalam bahasa Jawa dialék Pati berjudul Saridin Mokong dimuat dalam Suara Merdéka édisi Muria lebih dari 500 kali muat dan judul itu kemudian dijadikan nama kesebelasan Persipa Pati: Laskar Saridin Mokong. Di samping itu Sucipto menulis buku Wong Jawa (kok) Ora Ngapusi (2008), Belajar Dusta di Sekolah Kita (2008), Ketoprak: Siasat Hidup di Antara Tradisi dan Modernitas (akan terbit).

Kepada Sucipto Hadi Purnomo akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 untuk jasa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

 

 

Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 untuk bahasa Bali

 

Dalam tahun 2011 buku bahasa Bali yang terbit ada 9 judul, lebih sedikit daripada yang terbit tahun 2010 (ada 13 judul). Dari yang 9 judul itu, yang sebuah cétak ulang, sehingga yang dinilai untuk mendapatkan Hadiah Sastera “Rancagé” hanya 8 judul. Yang cétak ulang itu adalah Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang (Cinta Layu Sebelum Berkembang) karya Djelantik Santha yang pernah terbit tahun 1984. Romannya Sembalun Rinjani mendapat Hadiah Sastera “Rancage” tahun 2002.

Dari yang delapan judul buku baru, tiga adalah roman karya I Nyoman Manda pengarang yang sangat produktif dalam bahasa Bali, yaitu Cicih, Sam Pék Engtay, dan Jayaprana-Layonsari. Nyoman Manda pernah tiga kali mendapat Hadiah Sastera Rancagé yaitu tahun 1997 untuk jasa, tahun 2003 untuk karya (Bunga Gadung Ulung Abancang) dan tahun 2008 untuk karya (Depang Tiang Bajang Kayang-kayang).

Cicih mengambil téma hukum karma, yaitu bahwa orang akan mendapatkan kebaikan atau keburukan sesuai dengan perbuatannya sendiri. Tokoh cerita yang berbuat baik akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Bahasa yang digunakannya sederhana, mudah dipahami, alurnya jelas; Cicih adalah roman yang happy ending, memberikan pelajaran moral léwat cerita.

Sam Pék Engtay dan Jayaprana-Layonsari keduanya pengisahan ulang cerita lama. Sam Pék Engtay cerita rakyat Cina yang sejak 1900-an sangat popular di Bali dalam bentuk puisi tradisional Bali, gaguritan, yang sering dijadikan lakon arja atau drama gong. Jayaprana-Layonsari adalah legénda Bali yang juga banyak dibuat menjadi gaguritan atau lakon arja dan drama gong. Keduanya juga menggarap téma tentang hukum karma seperti Cicih.

Lima judul buku lain yang baru terbit ialah Bor karya IBW Widiasa Kenitén, Sundel Tanah dan Bunga Valentine keduanya karya I Madé Sugianto, Meték Bintang (Menghitung Bintang) karya Komang Adnyana dan Kama Bang Kama Putih karya I Madé Suarsa.

Bor berisi 13 cerita yang umumnya menggambarkan ketidakharmonisan dalam masyarakat Bali akibat penafsiran adat dan tradisi yang sangat kaku. Disajikan dengan bahasa Bali yang halus, cerita-cerita IBW Kenitén sering menggunakan tokoh luar Bali atau asing (Jawa, turis Amérika) sebagai saluran untuk menyampaikan kritik terhadap ketidakharmonisan di Bali. Dalam “Julia”, umpamanya, pengarang menggunakan tokoh wanita orang Amérika untuk menyindir perilaku masyarakat Bali yang terlibat perkelahian antar-kelompok, masyarakat yang menolak menguburkan jenazah, dan lain-lain.

Sundel Tanah dan Bunga Valentine masing-masing juga memuat 13 cerita. Témanya beragam, mulai dari kisah romantika remaja merayakan hari kasih sayang dalam cerita “Bunga Valentine” sampai dengan isyu serius mengenai masyarakat Bali yang kian dihimpit oléh situasi, untuk mau tidak mau, perlu tidak perlu, harus menjual tanahnya seperti dalam “Sundel Tanah”. Madé Sugianto dalam kedua kumpulan cerita ini menunjukkan kréativitasnya dalam mengangkat téma cerita, namun dalam penggarapan masih memerlukan pendalaman, baik dalam perwatakan maupun dalam pengembangan konflik.

Prosa liris Kama Bang Kama Putih karya I Madé Suarsa menawarkan penggalian dan pengungkapan baru dalam sastra Bali modéren. Pemakaian bahasa yang indah dalam prosa liris ini menunjukkan kemampuan pengarang dan bahasa Bali itu sendri untuk mengungkapkan persoalan secara mendalam secara éstétis. Kama Bang dan Kama Putih adalah lambang laki-laki dan perempuan, dua yang berbéda, perempuan memiliki indung telur (kama bang) dan laki-laki memiliki spérma (kama putih). Dalam prosa liris ini dilukiskan ésénsi keperempuanan dan kelaki-lakian dalam kehidupan yang penuh gejolak hawa nafsu, gejolak sosial politik, dan sebagainya. Sayang keseluruhan prosa liris ini dalam penggalian kata-kata bersajak terasa agak berlebihan.

Kumpulan cerita péndék Meték Bintang (Menghitung Bintang) karya Komang Adnyana yang juga berisi 13 cerita, hampir semuanya menarik dalam hal téma dan penggarapan. Pengarang mampu untuk “terang-terangan menyembunyikan” titik-titik penting cerita, sehingga pembaca dibuat terpaksa memikirkan dan membayangkan hubungan-hubungan antara peristiwa dan ucapan para tokoh. Pembaca cerita-cerita ini tidak akan merasa rampung setelah habis membaca kalimat terakhir tetapi akan terus terangsang untuk berpikir, mengait-ngaitkan dan menggali-gali unsur cerita yang disembunyikan pengarang. Dalam “Ngamén”, misalnya, dilukiskan hubungan rumit antara suami-isteri Bali dengan orang Jerman bernama Michél yang datang ke Bali untuk mempelajari kebudayaan Bali. Bahkan dia ingin menjadi orang Bali, sehingga mengganti nama menjadi Luh Sandat. Ketekunannya mempelajari kesenian dan kebudayaan Bali membuat orang Bali merasa malu, sehingga terpanggil untuk melestarikan kebudayaannya. Michél jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang sudah beristeri, tetapi belakangan ternyata Michél itu laki-laki.

Cerita dalam Meték Bintang ini sangat beragam dan membacanya sangat menyenangkan, terutama cerita-cerita yang tragis seperti “Cicing” (Anjing), “Maling”, dan “Luh Ronji”. Kejutan pada akhir cerita merupakan kekuatan lain yang merata dalam kumpulan Meték Bintang.

Berdasarkan penilaian di atas maka Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 untuk karya dalam bahasa Bali diberikan kepada

 

Meték Bintang (Menghitung Bintang)

Karya Komang Adnyana

(terbitan Jnana Aksara Bali)

 

Kepada Komang Adnyana akan disampaikan Hadiah Sastera “Ranacgé” 2012 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

 

Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 untuk jasa dalam mengembangkan bahasa dan sastera Bali disampaikan kepada

 

I Madé Sugianto

(lahir di Tabanan, 19 April 1979)

 

Jasa I Madé Sugianto terhadap perkembangan sastera Bali ada dua hal. Pertama, dia banyak menulis karya dalam bahasa Bali modéren terutama berupa cerita péndék yang dimuat dalam Bali Orti, supelmén Bali Post Minggu yang khusus untuk bahasa Bali. Sudah ada empat judul kumpulan cerita péndéknya yang terbit sebagai buku (dua judul tahun 2010, dua judul tahun 2011). Dia yang bekerja sebagai wartawan itu merupakan salah seorang sasterawan Bali modéren yang produktif.

Kedua, jasa Madé Sugianto adalah dalam usahanya menerbitkan karya-karya sastera Bali modéren menjadi buku melalui penerbit kecil yang dikelolanya bernama Pustaka Eksprési yang pertama kali menerbitkan buku tahun 2009. Sekarang sudah menerbitkan 9 judul buku seperti Jangkrik Maénci (2009), Bikul, Préman, Komédi Birokrat, Jénggot Kambing (semuanya 2010) dan Bunga Valentine, Sundel Tanah, Tresnané Ajur Lebur Satondén Kembang, dan Bor (2011). Setiap judul dicétak 200 (dua ratus) éksempkar dan diédarkan melalui toko-toko buku. Dengan usahanya itu karya sastera Bali modéren bisa terbit sebagai buku.

Sebelum menerbitkan buku bahasa Bali melalui Pustaka Eksprési, Madé Sugianto menerbitkan majalah sastera Eksprési sejak 2007 dan sejak 2011 tampil dengan sisipan bahasa Bali “Kedaton”. Majalah ini ditujukan kepada para remaja, sehingga melalui sisipan “Kedaton” sastera Bali modéren diperkenalkan kepada generasi muda.

Kepada I Madé Sugianto akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

 

 

Hadiah Samsudi 2012 untuk bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda

 

Buku bacaan kanak-kanak berbahasa Sunda dalam tahun 2011 terbit lima judul, yaitu Asal Usul Hayam Pelung jeung Dongéng-dongéng Cianjur Lianna karya Tatang Setiadi dan Sasakala Situ Buleud, Sasakala Situs Gunung Padang, Sasakala Situ Wanayasa, dan Sangkuriang jeung Gunung Tangkuban Parahu keempatnya karya Aan Merdéka Permana.

Asal-usul Hayam Pelung memuat 9 dongéng yang bertalian dengan Cianjur, termasuk tentang asal-usul ayam pelung, tempat mandi badak putih, Gunung Padang, Sungai Citarum, makam Si Kabayan, dan kuda kosong. Diceritakan dengan menarik dan lancar. Meskipun timbul tanda tanya mengapa dalam “Dongéng Sasakala Gunung Padang” dikisahkan ada LSM, sementara cerita “Jangari anu Kalindih” lebih merupakan cerita péndék daripada dongéng. Namun demikian buku Asal-Usul Hayam Pelung sangat menarik buat bacaan kanak-kanak.

Sementara itu keempat buku sasakala yang disusun oléh Aan Merdéka Permana, memperlihatkan ketidakprofésionalan, baik dalam penyusunan cerita maupun dalam penerbitannya sebagai buku, sehingga kurang baik kalau sampai ke tangan kanak-kanak.

Maka sebagai pemenang Hadiah Samsudi 2012 ditetapkan

 

Asal-Usul Hayam Pelung jeung Dongéng-dongéng Cianjur Lianna

Karya Tatang Setiadi

Terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung

 

Kepada Tatang Setiadi akan disampaikan Hadiah Samsudi 2012 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

 

*

 

Upacara penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé” 2012 dan Hadiah Samsudi 2012 akan dilaksanakan dalam suatu upacara khusus di tempat dan pada waktu yang akan ditetapkan kemudian.

 

                                                            Pabélan, 31 Januari 2012

                                                            Yayasan Kebudayaan “Rancagé,

 

                                                            Ajip Rosidi

                                                                                              Ketua Déwan Pembina