Tari Legong Kuntir yang tampil di TropenMuseum, Amsterdam. Foto Istimewa.

Penampilan Sekaa Gong Semara Ratih Ubud memukau penonton dalam International Gamelan Festival Amsterdam (IGFA).  Apresiasi penonton tampak dari tepuk tangan penuh semangat yang mereka berikan setiap akhir sajian tabuh dan tari.

 International Gamelan Festival Amsterdam (IGFA) berlangsung tiga hari (9-11 September) di Tropen Museum, Amsterdam. Semara Ratih tampil dua malam berturut-turut, hari pertama dan kedua. Hari ketiga diisi oleh sekaa gamelan Kyai Fatahilla (Jawa Barat) yang banyak memainkan gamelan Sunda dan aneka kolaborasi dengan musisi Belanda.

Semara Ratih di Panggung TropenMuseum, Amsterdam. Foto Darma Putra
Semara Ratih di Panggung TropenMuseum, Amsterdam. Foto Darma Putra

Direktur TropenTheatre, Rien Vrijenhoek, dalam sambutan tertulisnya menyampaikan rasa bangga bisa menyajikan festival gamelan internasional. Di luar Indonesia, katanya penuh rasa bangga, Tropen Museum bisa menampilkan diri sebagai tempat penting untuk pentas gamelan.

 Dalam tiga malam festival, teater dengan kapasitas 600 kursi selalu penuh. Harga tiket hari pertama 25 Euro, sedangkan hari  berikutnya 27,50 Euro (sekitar Rp 315 ribu). Untuk menambah suasana, pantia juga menjual prasmanan masakan Indonesia seharga 17 Euro, dengan menu rendang, gado-gado, nasi goreng, krupuk, sambel, dan lain-lain.

 Sitarasmi

Pada penampilan pertama Semara Ratih pimpinan AAG Anom Putra menyajikan tabuh pembuka dan mengiringi tarian Sitarasmi yang dibawakan Ayu Bulantrisna Djelantik. Sitarasmi mengisahkan gejolak perasaan Dewi Sita yang bercampur aduk dan berganti-ganti dari senang, sedih, marah sampai akhirnya stabil saat harus menghadapi ujian kesucian setelah lepas dari culikan Rahwana.

Ayu Bulantrisna Djelantik, setelah menarikan Sitarasmi. Foto Darma Putra

Dalam tarian itu, Bulan mestinya tampil dengan menggunakan topeng berganti sesuai perasaan, tetapi hanya mengenakan satu topeng. Agem (gerak tari) dan mimik yang ditampilkan sudah cukup memukau penonton untuk menggambarkan perasaan Sita yang naik turun ibarat gelombang samudera.

 Bulantrisna sudah menari sejak usia belasan tahun, kini dalam usia 50 tahun lebih, penampilannya tetap memukau. Menari di Tropen Museum Belanda, adalah menari di negeri kelahirannya. Ayahnya dr. AAM Djelantik bersekolah dan bekerja di Belanda terus menyunting perawat yang dicintainya. “Saya numpang lahir di sini, tapi besar di Bali,” ujar Bulan, usai pentas. Sebagai penari, dia sudah keliling dunia, mengikuti misi kesenian Indonesia ke berbagai negara.

 Wargasari dan Punarbawa

Hari kedua merupakan penampilan penuh selama 2,5 jam dari Semara Ratih. Selingan sedikit diisi dengan Kecapi Suling dan Tembang Sunda dari Euis Komariah dkk. Pemunculannya di panggung dengan mengenakan seragam hijau tua yang kalem diawali dengan prosesi diiringi tembang Wargasari.

Penabuh Semara Ratih sebelum tampil. Foto Darma Putra
Penabuh Semara Ratih sebelum tampil. Foto Darma Putra

Tabuh selonding yang mengiringi kidung ini membangun suasana magis nan purba. Makna baik-bait wargasari yang mengekspresikan keindahan dan keriangan menyaksikan bunga-bunga pada musim semi diterjemahkan dengan baik dalam brosur pementasan oleh ahli Jawa Kuna dari Leiden, Dr. Hedi Hinzler. Andaikan ada  asap dupa dengan keharumannya, suasana magis dan purban mungkin lebih kuat.

 Watak gamelan Bali yang riang, dinamis, dan serba-cepat langsung menggedor hati penonton ketika Semara Ratih menampilkan Tari Baris yang dibawakan AAG Anom Putra. Penari berbakat dan kuat ini bisa menyihir penonton, buktinya di akhir pentas keplok panjang menggema sebagai apresiasi.

 Tari Baris dilanjutkan dengan tabuh ‘Lekesan’ ciptaan Nyoman Windha tahun 2001. Kombinasi rebana dan kendang (kecil untuk angklung) membuat sajian ini ramai namun tetap bermelodi indah. Kombinasi kecak juga muncul ketika Semara Ratih mengiringi Anom Putra membawakan Tari Dempu Awang yang menjelma kera putih.

Sambutan sama juga muncul untuk dua penari Legong Kuntir, yaitu Dewa Ayu Sukmawati dan Dewa Ayu Satria Dewi. Legong klasik ini mengisahkan pertarungan raja kera Subali dan adiknya Sugriwa, dicukil dari kisah Ramayana. Gerak leher, seledet tajam, eskpresi, dan agem dinamis membuat sajian sang penari mempesona.

Dalam puncak penampilannya, Semara Ratih menyajikan tabuh bertajuk ‘Punarbawa’ ciptaan Ketut Cater (2010) dilanjutkan dengan pentas tari Trunajaya  oleh Dewa Ayu Sukmawati, istri AAG Anom Putra sekaligus wakil pimpinan artistik Semara Ratih. Wajahnya sebagai penari Trunajaya terpampang dalam poster besar di Tropen Museum sebagai baliho promo festival.

 Respon Minor

Ada satu hal kecil yang pantas dicatat dalam penampilan Semara Ratih dalam festival Amsterdam, khususya setelah memainkan tabuh bertajuk ‘Orang Besi’. Tabuh ini merupakan kreasi komposer Christine Southworth yang memadukan irama selonding dengan irama desing abstrak yang terdengar kurang padu. Apresiasi penonton tidak begitu semangat bahkan ada satu orang yang berteriak ‘buu’, sebuah ekspresi tidak puas dengan tabuh itu.

 Respon minor itu jelas ditujukan kepada tabuh yang dimainkan, bukan kepada Semara Ratih yang malam pertama dan kedua secara keseluruhan tampil prima. Namun, penampilan mereka akan lebih mantap lagi kalau kekompakan tabuhnya dilengkapi dengan ekspresi dan bahasa tubuh serta senyuman di sana-sini dari penabuhnya. Pemain gender khususnya juru ugal Dewa Ketut Widiarsa dan pemain riong AAG Dipta dkk tampak selalu riang saat bermain sesekali melepas senyum, namun dua pemain kendang tampak ‘mahal senyum’ kecuali sedikit ketika mereka digoda enari Trunjaya.

 Ada yang menilai bahwa kekaleman pemain kendang mungkin untuk menjaga wibawa penampilan karena sadar Semara Ratih tampil dalam festival internasional yang serius. Mungkin juga!

Darma Putra

Bali Post, Minggu, 19 September 2010.