Oleh Rahmad Nasution

http://rnasution.blogspot.com/search?q=pastika

 

Pemilihan langsung gubernur Bali 9 Juli 2008 tidak hanya menyita perhatian warga Bali di manapun. Pesta demokrasi yang diikuti tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu juga ikut mencuri perhatian publik Australia.

Setidaknya perhatian publik Australia terhadap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung yang baru pertama kali dilakukan dalam sejarah Provinsi Bali itu tercermin dari pemberitaan Harian “The Age” edisi 28 Juni 2008.

Adalah I Made Mangku Pastika sosok yang menarik perhatian publik negeri jiran di selatan Indonesia itu.

Dalam Pilkada yang diikuti lebih dari 2,5 juta orang pemilih itu, mantan Kapolda Bali ini berpasangan dengan AA Puspayoga. Mereka bersaing dengan pasangan Prof.I Gede Winasa-I Gusti Bagus Alit Putra, dan Cok Budi Suryawan-Nyoman Gde Suweta.

Dalam berita sepanjang 17 paragraf berjudul “Charismatic, aspiring Bali governor sends his regards” (Gubernur Bali yang karismatik dan menginspirasi mengirim kabarnya) itu, wartawan “The Age”, Mark Forbes, menggambarkan sosok Mangku Pastika dengan sangat positif.

Bagi kalangan pemerintah, media, dan Polisi Federal Australia (AFP), mantan ketua tim investigasi insiden Bom Bali 2002 ini adalah sosok yang tidak asing lagi.

Bahkan di mata Komisioner AFP, Mick Keelty, Mangku Pastika adalah jenderal Polri yang mampu membangun kepercayaan masyarakat Bali pada kemampuan Polri menggulung jaringan terorisme pasca-insiden Bom Bali 2002.

Peraih Adhi Makayasa (lulusan terbaik) Akabri Kepolisian tahun 1974 yang fasih berbahasa Inggris itu adalah sosok yang tak asing bagi investigator AFP saat terjadi insiden serangan kelompok teroris yang menewaskan 88 orang warga Australia itu.

“Dia (Mangku Pastika) juga seorang yang religius. Selama investigasi (Bom Bali 2002), dia selalu menyempatkan diri ke pura untuk berdoa…,” kata Keelty.

Kepopuleran Mangku Pastika di mata publik Australia memang tak dapat dilepaskan dari peranannya yang sentral dalam mengungkap teka-teki di balik insiden Bom Bali 2002 dan kemampuannya menggulung jaringan para pelaku aksi terorisme tersebut.

Bagi calon gubernur Bali dukungan PDIP ini, insiden Bom Bali tersebut telah pun mendekatkan Indonesia dan Australia. “Kita sangat dekat satu sama lain. Saya rasa Australia perlu Bali dan Bali pun perlu Australia,” katanya seperti dikutip “The Age”.

Modal besar

Sosok Mangku Pastika yang secara psikologis dekat dengan Australia itu adalah modal besarnya untuk menjadikan Bali “rumah kedua” yang semakin menarik dan aman bagi para wisatawan asal Negeri Kangguru itu.

Pemerhati masalah pariwisata Bali, Dr.I Nyoman Darma Putra, yakin bahwa jika mayoritas rakyat Bali memilih Mangku Pastika, para wisatawan Australia mungkin akan lebih tenang berlibur ke Bali.

“Kalau Mangku Pastika jadi Gubernur di Bali, orang Australia mungkin akan lebih tenang ke Bali. Paling tidak mereka bisa merasakan bahwa mereka punya ‘Bapak’ di Bali yang bisa ‘mendengar’ dan diajak ‘bicara’ jika ada masalah,” katanya.

Sepanjang 2007, jumlah wisatawan Australia yang berkunjung ke Indonesia, terutama Bali, tercatat sebanyak 314.432 orang. Jumlah itu ditargetkan naik menjadi 380 ribu orang sepanjang Tahun Kunjungan Wisata Indonesia 2008.

Menurut penulis buku “Tourism, Development and Terrorism in Bali” bersama Prof.Michael Hitchcock (London, Ashgate, 2007) itu, Bali memerlukan gubernur yang bisa berbahasa Inggris dengan baik karena provinsi itu adalah daerah tujuan wisata dunia.

“Selama ini banyak keluhan wisatawan Australia yang dikirim melalui surat ke Gubernur Bali, seperti turis yang kena tipu saat menukar uang di ‘money changer’ (tempat penukaran uang) liar, alam Bali yg kotor dan penuh sampah, maupun oknum polisi yang menargetkan turis sasaran tilang di jalan,” kata Darma Putra.

Jika gubernur yang terpilih dalam Pilkada 2008 ini adalah sosok yang bisa berbahasa Inggris seperti Mangku Pastika, apa yang dikeluhkan banyak wisatawan Australia itu pasti bisa ditanggapi dengan cepat, kata dosen bahasa Indonesia di Universitas Queensland itu.

“Turis yang punya keluhan pun pasti akan merasa berguna menulis kepada Mangku Pastika. Orang asing yang cinta Bali, yang memiliki gagasan positif untuk mengembangkan Bali, pasti merasa tidak sia-sia menuangkan pikiran dan menyampaikan kepada Mangku Pastika,” katanya.

Sebagai daerah tujuan wisata dunia, Mangku Pastika juga dinilai cermat mengartikulasikan kepentingan Bali ke dunia luar dan dengan jitu menyampaikan kepentingan turis kepada masyarakat Bali sehingga bisa menjadi tuan rumah yang baik, kata Darma Putra.

“Kalau komunikasi baik, banyak pekerjaan besar dan rumit bisa dikerjakan dengan baik. Sebagai daerah pariwisata, Bali perlu punya gubernur yang dipercaya oleh masyarakat dunia,” katanya.

Sosok yang lengkap

Selain itu, dilihat dari aspek pengalaman kerja dalam struktur birokrasi nasional, Mangku Pastika juga merupakan sosok “anak daerah” yang lengkap.

“Mangku Pastika itu sosok yang hebat dan menarik. Dia faham adat dan budaya Bali. Dia memiliki pengalaman kerja dalam struktur birokrasi nasional di Pusat dan daerah. Dia memiliki prestasi internasional yang mengagumkan dunia ketika menjadi ketua tim multinasional investigasi insiden Bom Bali 2002,” katanya.

Karakter regionalisme, nasionalisme dan internasionalisme seperti itu benar-benar menyatu dalam diri Mangku Pastika sehingga, jika mayoritas rakyat Bali menghendaki, dia cocok memimpin Bali sebagai daerah yang memiliki adat budaya yang kuat, menjunjung tinggi Negara Kesatuan RI, dan merupakan daerah tujuan wisata warga dunia.

“Hanya saja, kehebatan sosok Mangku Pastika ini justru dijadikan isu oleh lawan politiknya. Mereka bilang seharusnya Mangku Pastika tak usah menjadi gubernur. Kalau memang hebat mengapa tidak mengejar posisi Kapolri?” katanya.

Pandangan seperti itu keliru karena orang-orang seperti Mangku Pastika sudah saatnya diberi kesempatan untuk memimpin daerahnya supaya daerah cepat mengalami kemajuan dan dari daerah kemajuan Indonesia itu bisa dicapai.

“Bagi saya, dan ini tak hanya untuk Mangku Pastika dan Bali tapi bagi semua daerah di Indonesia di era otonomi, sudah saatnya daerah dipimpin oleh orang lokal yang memiliki kaliber nasional dan internasional,” kata Darma Putra.

Di tangan para pemilih Pilkada Bali nasib Mangku Pastika dipastikan. Namun bagi Australia, hanya ada satu pilihan!